Hentikan Penggunaan Minyak Parafin untuk Melumasi Kateter Permanen!
Kateterisasi menetap adalah teknik keperawatan klinis yang umum, dengan kateter sebagai alat medis yang penting. Balon merupakan bagian yang rentan pada kateter sekali pakai.
Dari tanggal 1 Januari hingga 30 Mei 2019, Pusat Pemantauan Reaksi Obat yang Merugikan dari Administrasi Produk Medis Nasional Tiongkok menerima 658 laporan dugaan kejadian buruk terkait kateter. Di antara laporan tersebut, 318 laporan melibatkan pecahnya balon selama penggunaan, yang mewakili 48,3%.
Jadi, bahaya apa yang dapat ditimbulkan oleh pecahnya balon pada pasien selama pemasangan kateter menetap? Mengapa insiden pecahnya balon begitu tinggi? Dan bagaimana kita harus mencegahnya dalam praktik klinis?
Bahaya yang Disebabkan oleh Pecahnya Balon
Cedera utama akibat pecahnya balon terutama meliputi kebutuhan kateterisasi sekunder, dampak pada pemulihan pascaoperasi, nyeri, retensi urin, dan perdarahan uretra.
Dalam beberapa kasus, serpihan balon tertinggal di dalam tubuh, bahkan berpotensi menyebabkan kerusakan permanen pada fungsi kandung kemih pasien.
Bagi sebagian pasien yang menjalani operasi uretra, kateter berperan sebagai pendukung dalam pemulihan pascaoperasi. Pecahnya balon dapat menyebabkan kegagalan operasi, sehingga menimbulkan risiko operasi kedua.
Apa Penyebab Balon Pecah?
Kateter urin adalah alat medis yang digunakan untuk drainase urin, irigasi kandung kemih, dan lain-lain. Bahannya meliputi lateks alami, karet, silikon, atau polivinil klorida (PVC). Jenis utamanya adalah kateter lumen tunggal, lumen ganda, dan lumen tiga, dan banyak digunakan dalam praktik klinis.
Investigasi mengungkapkan bahwa kateter dengan balon yang pecah sebagian besar terbuat dari lateks. Literatur terkait menegaskan bahwa kateter lateks memiliki risiko pecah balon yang meningkat secara signifikan bila digunakan dengan pelumas berbahan dasar petroleum.
Penyebab utama pecahnya balon pada kateter lateks adalah penggunaan pelumas berbahan dasar petroleum yang bertentangan dengan petunjuk penggunaan, contoh klinis umum adalah parafin cair dan Vaseline.
Mengapa Pelumas Berbasis Minyak Bumi Meningkatkan Risiko Pecahnya Balon?
Dalam praktik klinis, pelumas berbahan dasar petroleum seperti parafin cair dan Vaseline banyak digunakan. Meskipun tidak menyebabkan iritasi pada tubuh manusia, pelumas ini sangat korosif terhadap balon kateter, sehingga mengurangi toleransi tekanan balon.
Parafin cair, khususnya, secara signifikan memengaruhi kateter lateks, karet, dan silikon, sehingga sangat meningkatkan risiko pecahnya kateter.
Tindakan Pencegahan dalam Penggunaan Pelumas dalam Praktik Klinis
Dalam praktik klinis, sangat penting untuk membaca petunjuk produk dengan saksama sebelum digunakan. Pilih pelumas dengan benar berdasarkan struktur dan bahan kateter sekali pakai. Jangan hanya mengandalkan pengalaman atau menggunakan pelumas kateter secara tidak benar dan tidak tepat.
Untuk balon yang terbuat dari bahan lateks alami, disarankan menggunakan pelumas yang larut dalam air. Hindari penggunaan pelumas berbahan dasar petroleum seperti parafin cair dan Vaseline.
Menurut studi terkait, gel lidokain memiliki sifat anestesi yang dapat mengurangi rasa sakit pasien selama intubasi, meningkatkan kepatuhan dan kenyamanan pasien. Gliserol, juga dikenal sebagai gliserin, adalah basis supositoria larut air yang umum digunakan.
Gel lidokain dan gliserol memiliki ciri keamanan yang tinggi, tidak menyebabkan iritasi, dan tidak korosif terhadap kateter. Selain itu, pelumas yang larut dalam air mudah diserap dan dikeluarkan, sehingga kecil kemungkinannya untuk tetap berada di dalam tubuh dalam jangka waktu lama.
Oleh karena itu, penggunaan zat yang tidak menyebabkan iritasi dan larut dalam air seperti gel lidokain dan gliserol sebagai pelumas kateter direkomendasikan.
Keunggulan Kateter Hidrofilik
Solusi optimal untuk mencegah pecahnya balon dan meningkatkan kenyamanan pasien adalah penggunaan kateter berlapis hidrofilik. Kateter ini memiliki lapisan polimer yang, setelah diaktifkan dengan air, berubah menjadi permukaan yang sangat halus dan licin. Lapisan ini terintegrasi, tidak berpindah, dan memberikan pelumasan superior selama seluruh proses pemasangan. Lebih penting lagi, sebagai pelumas berbasis air, ia sama sekali tidak bereaksi dengan material kateter, sehingga secara fundamental menghilangkan risiko korosi dan pecahnya balon yang terkait dengan pelumas berbasis minyak bumi. Selain itu, kateter hidrofilik dapat mengurangi iritasi dan cedera mukosa uretra, menurunkan kejadian komplikasi jangka panjang seperti striktur uretra.










